<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" >

<channel><title><![CDATA[Transformed Life Community (TLC) - Kesaksian]]></title><link><![CDATA[https://www.tlc-indonesia.com/kesaksian]]></link><description><![CDATA[Kesaksian]]></description><pubDate>Mon, 02 Mar 2026 12:25:26 +0700</pubDate><generator>Weebly</generator><item><title><![CDATA[Kasih Tuhan Mengubahkanku]]></title><link><![CDATA[https://www.tlc-indonesia.com/kesaksian/kasih-tuhan-mengubahkanku]]></link><comments><![CDATA[https://www.tlc-indonesia.com/kesaksian/kasih-tuhan-mengubahkanku#comments]]></comments><pubDate>Fri, 19 Apr 2019 10:24:05 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.tlc-indonesia.com/kesaksian/kasih-tuhan-mengubahkanku</guid><description><![CDATA[       Saya dibesarkan di keluarga Kristen. Namun, waktu saya kecil kami belum sungguh-sungguh mengikut Yesus. Hidup kami tidak berpusat kepada Krstus. Waktu kecil saya sering dipukuli dan merasa tertolak sehingga saya membenci diri sendiri dan mencoba membunuh diri beberapa kali tetapi Tuhan begitu baik sehingga Dia menggagalkan rencana saya untuk bunuh diri. Semenjak kecil, saya selalu merasa berbeda dan tertarik kepada sesama jenis. Saya merasa kurang laki-laki. Saya pun mencoba mengusir kete [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none " style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0;margin-right:0;text-align:center"> <a> <img src="https://www.tlc-indonesia.com/uploads/7/7/5/1/77514010/25591665-10154970528701175-7377998089486749218-n_orig.jpg" alt="Picture" style="width:auto;max-width:100%" /> </a> <div style="display:block;font-size:90%"></div> </div></div>  <div class="paragraph"><font color="#818181">Saya dibesarkan di keluarga Kristen. Namun, waktu saya kecil kami belum sungguh-sungguh mengikut Yesus. Hidup kami tidak berpusat kepada Krstus. Waktu kecil saya sering dipukuli dan merasa tertolak sehingga saya membenci diri sendiri dan mencoba membunuh diri beberapa kali tetapi Tuhan begitu baik sehingga Dia menggagalkan rencana saya untuk bunuh diri. Semenjak kecil, saya selalu merasa berbeda dan tertarik kepada sesama jenis. Saya merasa kurang laki-laki. Saya pun mencoba mengusir ketertarikan ini dengan berdoa dan mencoba untuk berubah menjadi hetero berkali-kali namun selalu gagal. Jadi akhirnya saya percaya pada dusta bahwa itulah diri saya sesungguhnya. Akhirnya saya memutuskan untuk merangkul ketertarikan sesama jenis ini dan saya pun meninggalkan iman saya karena saya tahu kita tidak bisa mengikut Tuhan dan hidup dalam dosa pada saat yang bersamaan. Pada akhirnya saya benar-benar lupa akan Tuhan. Saat itu bagi saya Tuhan tidak ada (ateis) dan setelah kematian hanyalah kehampaan. Akhirnya saya pun bisa melakukan semua yang saya ingini: bernafsu kepada sesama jenis, menonton film porno, masturbasi, dsb. Saya pun kecanduan terhadap banyak hal, termasuk video game. Walaupun saya telah hidup semau saya, saya tidak pernah merasa terpuaskan. Ada kekosongan di dalam diri saya.</font></div>  <div>  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div class="paragraph"><font color="#818181">Suatu hari biasa di tahun 2010 saya mulai bertanya-tanya tentang makna kehidupan. Saya berpikir... jika Tuhan tidak ada, apa artinya penderitaan? Saya telah dianiaya dan mengalami masa sulit, apa artinya semua itu? Saya menyadari bahwa adanya penderitaan tidak meniadakan keberadaan Tuhan tapi justru sebaliknya. Jika Tuhan tidak ada maka penderitaan kita sia-sia dan jika itu benar, maka adalah lebih jika kita bunuh diri dan menghabisi umat manusia dari pada membiarkan penderitaan yang sia-sia terus berlanjut. Saya pun sadar bahwa hidup itu lebih sekedar dari hidup di dunia ini. Secara tidak disangka-sangka Tuhan pun berbicara langsung di hati saya. Dia mengingatkan saya akan berkat-berkat-Nya dalam hidup saya walaupun saya ini sudah begitu berdosa. Saya pun menjadi yakin akan cinta Tuhan. Cinta yang tidak bisa ditemukan di tempat lain selain di dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu saya ingin mengikut Yesus tetapi saya masih belum yakin karena saya takut kehilangan jati diri saya sebagai gay yang pada waktu itu adalah segalanya bagi saya. Saya juga berpikir mengikut Tuhan itu pasti membosankan karena saya harus berhenti melakukan hal-hal yang saya senang lakukan sejauh ini dan saya hanya bisa berdoa dan bernyanyi. (Ternyata saya salah!) Tuhan mengetahui pikiran saya dan Dia pun berkata kepada saya, "Hanya orang bodoh yang menolak Kasih sempurna-Ku." Dan itu adalah suatu alarm yang membangunkan saya. Saya pun sadar saya tidak mau menjadi orang bodoh yang memilih dosa ketimbang Tuhan. Saya pun memutuskan untuk mengikut Yesus apapun harganya, termasuk kehilangan jati diri sebagai gay karena saya begitu menginginkan Yesus yang telah mengasihi saya. Saya tidak mau menjadi hetero karena pada saat itu saya pikir gay itu tidak apa-apa. Saya bahkan meminta Tuhan supaya membiarkan saya tetap gay, jika itu berkenan kepada-Nya. Tetapi di saat saya menyerahkan semuanya kepada-Nya, kuasa dosa dipatahkan dan saya saat itu juga dibebaskan dari homoseks dan semua kecanduan saya di masa lalu tetapi pikiran saya masih perlu diperbaharui.<br /><br />Setelah pertobatan saya, godaan masih kuat dan Tuhan memulai proses pembaharuan pikiran saya. Dia mulai menunjukkan dusta-dusta yang selama ini saya percayai dan menggantikan mereka dengan kebenaran: bahwa ini adalah soal KEKUDUSAN dan BUKAN soal heteroseks/normal, bahwa cinta tidak hanya ditemukan dalam pernikahan, bahwa cinta dan kedekatan tidak sama dengan seks, bahwa SAYA ADALAH pria ilahi, dan hidup BAGI KRISTUS membuat hidup lebih seru dan hidup! Semakin pikiran saya diperbaharui, godaan pun semakin melemah. Saat ini oleh kasih karunia Tuhan, saya punya kuasa untuk mengatakan "tidak" kepada godaan. Saya percaya proses pembaharuan pikiran ini akan terus berlanjut hingga Kristus datang atau saya dipanggil pulang. Terlepas semua itu, saya sangat gembira dan saya tidak sabar untuk melihat pengantin pria kita tercinta.<br /><br />Sekitar setahun yang lalu, Tuhan mengilhami saya untuk menuliskan sebuah buku berjudul&nbsp;<em style=""><strong>Bukan Cinta Sejenis&nbsp;</strong></em>tentang cinta Tuhan dan kebenaran-Nya yang membebaskan saya dari dosa-dosa saya, terutama dosa homoseks. Jika kamu bergumul dengan dosa homoseks atau kenal seseorang yang bergumul, kamu bisa membaca buku ini dengan gratis di <a href="http://www.notthesamelove.com/id" target="_blank" style="">sini</a>.<br /><br />&#8203;Sihol Gianito Situmorang</font></div>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Kisah di balik Lagu di Kaki SalibMu]]></title><link><![CDATA[https://www.tlc-indonesia.com/kesaksian/kisah-di-balik-lagu-di-kaki-salibmu]]></link><comments><![CDATA[https://www.tlc-indonesia.com/kesaksian/kisah-di-balik-lagu-di-kaki-salibmu#comments]]></comments><pubDate>Fri, 19 Apr 2019 10:19:53 GMT</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">https://www.tlc-indonesia.com/kesaksian/kisah-di-balik-lagu-di-kaki-salibmu</guid><description><![CDATA[Bagaikan disambar halilintar ketika badanku yang makin kurus dan dada yang sesak membaca hasil tes ditanganku.​“HIV Positif!! Bagaimana mungkin? Bagaimana masa depanku? Bagaimana kalau keluarga dan teman-temanku tahu? Apakah aku akan mati?”Ribuan pertanyaan berkecamuk di dalam kepala ini, hanya satu hal yang aku tidak berani pikirkan. Aku tidak berani menyalahkan Tuhan atas hantaman yang menimpaku ini. Ini semua salahku sendiri.Aku bergumul dengan ketertarikan dengan sesama jenis / homosek [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div><div class="wsite-image wsite-image-border-none" style="padding-top:10px;padding-bottom:10px;margin-left:0;margin-right:0;text-align:center"><a><img src="https://www.tlc-indonesia.com/uploads/7/7/5/1/77514010/25734019-740438699518-6768915510414431338-o_orig.jpg" alt="Picture" style="width:auto;max-width:100%"></a><div style="display:block;font-size:90%"></div></div></div><div class="paragraph"><font color="#818181"><span>Bagaikan disambar halilintar ketika badanku yang makin kurus dan dada yang sesak membaca hasil tes ditanganku.<br>&#8203;</span><br><span>&ldquo;HIV Positif!! Bagaimana mungkin? Bagaimana masa depanku? Bagaimana kalau keluarga dan teman-temanku tahu? Apakah aku akan mati?&rdquo;</span><br><span>Ribuan pertanyaan berkecamuk di dalam kepala ini, hanya satu hal yang aku tidak berani pikirkan. Aku tidak berani menyalahkan Tuhan atas hantaman yang menimpaku ini. Ini semua salahku sendiri.</span></font></div><div><!--BLOG_SUMMARY_END--></div><div class="paragraph"><font color="#818181">Aku bergumul dengan ketertarikan dengan sesama jenis / homoseksual sejak di dunia kuliah. Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan Yesus, aku tahu ini salah, dan hatiku tidak damai menjalani dua kehidupan. Di satu sisi sebagai &lsquo;anak baik&rsquo; yang giat melayani, disisi lain, hasrat homoseksual-ku juga tidak kubendung.<br><br>Tuhan sudah memberikan banyak kali kesempatan untuk aku sadar dan kembali. Memang ada suatu masa aku dibimbing oleh Mentor Rohani dan mulai meninggalkan gaya hidup homoseksualitas. Saat Mentor Rohani-ku tidak lagi dapat membimbingku karena tempat yang berjauhan, aku mulai terseret kembali ke dunia kelam itu. Rasa kesepian &amp; keinginan untuk mendapatkan apresiasi dan penerimaan yang kurasakan membuat aku mencari pelarian dengan &lsquo;bermain-main&rsquo; dalam dunia gay. Aku pikir bisa mengontrol hidupku, &ldquo;sedikit saja, jangan terlalu tenggelam, ingat kamu masih orang Kristen, kamu masih melayani. Jangan sampai keterlaluan.&rdquo;<br><br>Tetapi sekarang semua benteng pertahananku sudah runtuh. Sesaat aku bisa merasakan bagaimana perasaan Raja Daud, ketika Nabi Nathan membongkar dosanya yang keji. Kepedihan karena tahu ada konsekuensi yang harus ditanggung.<br><br>Tangisan pertobatan Daud dalam Mazmur 51 menjadi tangisan pertobatanku juga. Aku merasa tubuhku dan hatiku sudah hancur; hancur dalam hantaman kasih Tuhan.<br>&ldquo;Aku telah berdosa terhadap Engkau Tuhan. Tubuh ini, hati ini, pikiran ini. Ampuni kesalahanku dan kesombonganku yang menganggap aku bisa mengatur hidupku sendiri tanpa Tuhan. Jadikan hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!&rdquo;<br><br>Hati yang hancur ini ditambah dengan tubuh yang hancur pula. Seminggu awal pengobatan penyakitku, tubuhku tidak kuat menerima obat-obatan yang aku minum sehingga aku harus masuk rumah sakit.<br>&#8203;<br>Suatu malam di Rumah Sakit, saat aku terbaring lemah, tubuhku masih menderita karena efek obat. Di tengah penderitaan ini, pikiran dan hatiku kembali kepada Tuhan, kembali meminta pengasihan dan pengampunan, dan aku hanya bisa menyerahkan apa yang tersisa dari diriku di bawah kaki Salib Tuhan. Tiba-tiba Tuhan memberikan gambaran dalam pikiranku; aku melihat sekujur tubuhku digerogoti oleh ulat dan ular dan sangat menyakitkan&hellip; tetapi Tuhan lalu menunjukkan bahwa hatiku berada disuatu kotak besi dan kotak itu dibungkus oleh cahaya, kuasa dan darah Tuhan Yesus.<br>Aku menangis melihat pernyataan kasih Tuhan lewat gambaran ini, bahwa walaupun tubuhku diserang oleh penyakit dan tulah, tetapi Tuhan mau menjaga hatiku dengan kuasa darahNya.<br><br>Tidak sampai disitu, dalam pikiranku Tuhan memberikan gambaran lain. Dalam gambaran itu aku melihat Yesus yang ada disalib, sangat menderita, mengucurkan darah dan luka disekujur tubuhnya. Dan dibelakang tiang salib itu, aku melihat diriku turut terpaku bersama Yesus. Tuhan memberitahukan arti gambaran itu: Yesus harus menderita di atas kayu salib dan mati, agar Ia dapat menyelamatkan manusia dari hukuman kekal, karena itu aku harus menderita dan &lsquo;mati dalam dosaku&rsquo; agar aku dapat mengabarkan kepada mereka yang tersesat akan Salib Tuhan. Sungguh indah gambaran yang Tuhan berikan! Ia memberikan tujuan hidup baru bagiku, meskipun aku harus menanggung sakit ini seumur hidupku, tetapi aku akan serahkan seluruh hidupku untuk mengabarkan KasihNya yang Agung bagi mereka yang tersesat seperti aku dulu.<br><br>&#8203;Lagu <a href="https://soundcloud.com/thesoulsinger-z/di-kaki-salibmu-beneath-the-cross-of-jesus" target="_blank">&ldquo;Di Kaki SalibMu&rdquo;</a>&nbsp;ini adalah titipan Tuhan yang diberikan padaku. Suatu malam sebelum tidur, dalam masa pemulihan, aku berdoa kembali mengakui semua kesalahanku dan memohon anugerah kasihNya. Tiba-tiba mulutku melantunkan lirik dan melodi lagu ini, sebagai curahan isi hatiku kepada Tuhan. Keesokan harinya, aku mengingat-ingat lagu yang semalam aku nyanyikan, aku berkata: &ldquo;Tuhan, jika ini memang lagu darimu yang ingin kau pakai untuk menceritakan akan apa yang sudah Kau perbuat dalam hidupku, tolong aku untuk bisa mengingat lagu itu,&rdquo; dan Tuhan menjawab doaku. Kurang dari satu jam, lirik dan melodi lagu ini sudah tertulis dalam bentuk notasi dan lirik, bahkan ketika aku menambahkan lirik bahasa Inggris, terjadi dengan begitu mudahnya. (Aku bukan seorang pengarang lagu professional, dan biasanya aku membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengarang sebuah lagu).<br></font></div><div><div id="384117643501363821" align="left" style="width: 100%; overflow-y: hidden;" class="wcustomhtml"><iframe width="100%" height="300" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/709084381&amp;color=%23ff5500&amp;auto_play=false&amp;hide_related=false&amp;show_comments=true&amp;show_user=true&amp;show_reposts=false&amp;show_teaser=true&amp;visual=true"></iframe><div style="font-size: 10px; color: #cccccc;line-break: anywhere;word-break: normal;overflow: hidden;white-space: nowrap;text-overflow: ellipsis; font-family: Interstate,Lucida Grande,Lucida Sans Unicode,Lucida Sans,Garuda,Verdana,Tahoma,sans-serif;font-weight: 100;"><a href="https://soundcloud.com/thesoulsinger-z" title="theSoulfulSinger" target="_blank" style="color: #cccccc; text-decoration: none;">theSoulfulSinger</a> &middot; <a href="https://soundcloud.com/thesoulsinger-z/di-kaki-salibmu-beneath-the-cross-of-jesus" title="Di Kaki Salibmu / Beneath the Cross of Jesus" target="_blank" style="color: #cccccc; text-decoration: none;">Di Kaki Salibmu / Beneath the Cross of Jesus</a></div></div></div><div class="paragraph"><span style="color:rgb(129, 129, 129)"><br>&#8203;Saat Tuhan memberikan hantaman kasihNya, Dia ingin kita kembali kepadaNya. Seperti anak yang hilang yang menyadari bahwa semua yang lain adalah sampah, dan hanya kembali kepada Bapa saja tempat yang terbaik. Seburuk apapun keadaan kita, Tuhan Yesus sudah memberikan jalan lewat salibNya, pertanyaannya adalah apakah kita mau datang di kaki salibNya, untuk menyerahkan segala dosa dan membiarkan Tuhan memperbaharui hati dan hidup kita?</span><br><span style="color:rgb(129, 129, 129)">&#8203;</span><br><span style="color:rgb(129, 129, 129)">Ditulis oleh:</span><br><span style="color:rgb(129, 129, 129)">AKU yang dikasihi oleh BAPA-ku</span><br><strong style="color:rgb(129, 129, 129)">Zion Tjendana</strong></div>]]></content:encoded></item></channel></rss>